Safety Talk


Saya  mau  cerita pengalaman yang dialami langsung oleh diri saya sendiri. Sekitar tiga minggu yang lalu saya mengalami kecelakaan motor. Semua kecelakaan kecelakaan yang pernah saya alami sejak kecil, baik di alam darat, laut dan udara semuanya masih terekam cukup jelas di memori. Eh, diralat. Kecelakaan darat: mulai dari sepeda, motor, mobil, sampai dengan bis. Kecelakaan air/laut : terhanyut waktu rafting di Citarik. Alhamdulillah di udara enggak. Naudzubillah, amit amit, jangan sampe, astagfirullah, ampun ya Allah.

Tiga minggu persis setelah kecelakaan, saya mendapat pelatihan emergency first aid (EFA) bersertifikat. Semua memori kengerian dan shock kecelakaan yang pernah saya alami ke-recall lagi saat mengikuti pelatihan tersebut. Jadi kadang suka ngilu ngilu sendiri pas dokter dokter yang memberikan training sedang memberikan simulasi.
Kecelakaan ataupun training EFA tidak pernah saya inginkan terjadi ataupun saya rencanakan, tapi semuanya telah ditakdirkan Allah.

Dari kecelakaan maupun training EFA (mulai dari teknik CPR hingga cara menyelamatkan bayi saat kebakaran ataupun keadaan gawat seperti bom teroris) saya belajar satu hal yaitu “Safety First For Yourself”. Bahkan saat kita mau menolong orang yang jadi korban kecelakaan pun, kita harus memprioritaskan keselamatan diri kita sendiri (saat menolong) daripada korban kecelakaan tersebut. Sounds selfish right? But this is true. Karena semua teknik penyelamatan yang telah diriset secara medis dan didesign itu, adalah bagaimana mengamankan keselamatan diri penolong dahulu baru kemudian keselamatan korbannya.

safety

Sejak pagi sampai sore di Bekasi dan sekitarnya mendung. Sore ini di perempatan poncol Bekasi saya melihat satu pengendara motor yang antimainstream. Di jalanan, kita bisa ketemu macam macam karakter orang-orang yang unik kan.. nah pengendara motor ini melanggar rambu, dengan berhenti tepat di atas zebra cross. Seharusnya dia berhenti di belakang garis zebra cross saat lampu merah. Saya lihat, semua standar safety sudah ada pada dirinya: helm fullface, jaket, sarung tangan, masker, dan memakai sepatu.

Lalu di mana letak antimainstream nya??

Pengendara ini adalah Perempuan yang naik motor Vixion dengan memakai sepatu WEDGES 7-10 cm. Pfttt.. Jadi karena tinggi badan (TB) si mbak ini kurang,  maka dia memakai Wedges tinggi (banget) supaya kakinya sampai ke tanah saat berpijak (maaf ya mbak mbak rider kalau saya sempat ketawa lucu tadi). Saya taksir TBnya sekitar 150ish cm. Mbak mbak…. kenapa ngoyo banget mau naek motor Vixion sih??

Oh ya, ada satu hal yang terlewatkan, ternyata ada satu lagi standar safety yang belum ada di mbak mbak rider ini.. Yaitu mbak mbak rider ini gak memakai Jas Hujan saat naik motor, padahal cuaca sedang hujan!

Kesimpulan nya, di mana pun kondisi kita berada, baik sebagai pengendara, penumpang, korban kecelakaan, maupun penolong korban kecelakaan, Safety Above All.

So, buat teman-teman yang belum memiliki dan membutuhkan jas/mantel hujan kualitas premium di musim hujan sekarang ini, bisa menghubungi saya ya.*jualan  mode on*

Becareful on the road and safety first.

Selamat weekend

Gadis Pengendara Motor

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s