Tentang malam ini


Saya masih terjaga. Hujan perlahan jatuh rintik-rintik. Entah mengapa, ada kerinduan yang menyergap rasa kantuk. Maka saya ingin menuliskan kembali puisi seorang adik yang pandai. Saya tengah merindukan dua orang, yang malam ini punya tempat istimewa di benak saya. Apakah kalian mendengar sapaan kerinduan ini?

“Bromo malam ini sepi, menikmati kesunyian. Tak ada yang lebih gelap dari kerinduan. Menanti hari kelak saling meniti sungai kehidupan. ” (Ijonkmuhammad)

Kalian tahu pahitnya menahan gelap dalam dingin?

” Mungkin ada kalut dari esok yang lahirkan takut. Tapi kita berserah dalam doa, rebah pada keinginan yang sama. Selamanya, adalah kita.” (Ijonkmuhammad)

Maka biarkan kata kata menjelma doa, lalu ia berjalan ke atas langit. Kalian juga kan?

Pak Taufik Ismail dan Hafalan Puisinya


Scene: Dalam salah satu segmen acara Humaniora Islamic Festival yang diselenggarakan oleh fakultas ilmu budaya Universitas Indonesia (jumat, 29 Desember 2011).

Ibnu W (Pembicara 2) : “…. Pak Taufik, nanti bisa bapak bacakan puisi Sajadah Panjang?”

Taufik Ismail (Pembicara 1) : Mengangguk

Moderator : bla-bla-bla

Taufik Ismail (Pembicara 1) : ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian, sampai ke tepi kuburan hamba, kuburan hamba bila mati, ada sajadah panjang terbentang ….. (hening) saya lupa

Sontak beberapa hadirin memberikan senyum tawa pada sosok pujangga besar yang usianya sudah senja itu. Maka sang moderator pun bertanya, bagaimana mungkin sang penyair bisa tidak hafal pada puisi buatannya sendiri. Lalu pak Taufik Ismail sambil tersipu menjawab Continue reading

Sekali lagi, dan Seterusnya


Tertinggal hangat dekapmu di hari ini.
Aku bahagia.
Sekian masa kuhadapkan tubuhku.
Aku tenggelam lupa.
Bahwa ada pundakmu di dekatku.
Yang sedia cinta menampung seluruh citarasa jiwa tubuhku.
Aku mau sekali lagi.
Dan untuk seterusnya, hingga dipisahi oleh malaikatnya Ilahi.

Credit : ibuku

Hujan Bulan Juni


tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

(Sapardi Djoko Darmono)

Sapardi Djoko Darmono

Tak biasanya saya senang memposting puisi. But I did it 🙂. Postingan ini terinspirasi dari bulan Juni tahun 2010. Beberapa hari dalam beberapa pekan, sore di kota tempat tinggal saya turun hujan. Padahal sesungguhnya musim hujan belumlah tiba. Cuaca semakin menari sesuka hatinya, pertanda bumi mulai menarik perhatian penghuninya.