Safety Talk


Saya  mau  cerita pengalaman yang dialami langsung oleh diri saya sendiri. Sekitar tiga minggu yang lalu saya mengalami kecelakaan motor. Semua kecelakaan kecelakaan yang pernah saya alami sejak kecil, baik di alam darat, laut dan udara semuanya masih terekam cukup jelas di memori. Eh, diralat. Kecelakaan darat: mulai dari sepeda, motor, mobil, sampai dengan bis. Kecelakaan air/laut : terhanyut waktu rafting di Citarik. Alhamdulillah di udara enggak. Naudzubillah, amit amit, jangan sampe, astagfirullah, ampun ya Allah.

Tiga minggu persis setelah kecelakaan, saya mendapat pelatihan emergency first aid (EFA) bersertifikat. Semua memori kengerian dan shock kecelakaan yang pernah saya alami ke-recall lagi saat mengikuti pelatihan tersebut. Jadi kadang suka ngilu ngilu sendiri pas dokter dokter yang memberikan training sedang memberikan simulasi.
Kecelakaan ataupun training EFA tidak pernah saya inginkan terjadi ataupun saya rencanakan, tapi semuanya telah ditakdirkan Allah.

Dari kecelakaan maupun training EFA (mulai dari teknik CPR hingga cara menyelamatkan bayi saat kebakaran ataupun keadaan gawat seperti bom teroris) saya belajar satu hal yaitu Continue reading

Advertisements

Terima kasih Mama Kelinci


Di pagi hari tadi, harimau bangun untuk bersiap-siap berlari mengejar rusa. Rusa yang bangun lebih awal di pagi itu, juga bersiap-siap untuk berlari menghindari harimau. Harimau menggumam kepada dirinya sendiri … Hmm … aku tak boleh lamban dalam lariku hari ini, atau keluargaku tak makan. Rusa berbisik kepada dirinya…

Aku harus berlari lebih cepat lagi hari ini, karena mungkin saja harimau lebih cepat larinya hari ini, atau aku tak pulang ke keluargaku di senja ini. Mama kelinci mendengar desah hati sang rusa, dan berpaling kepada anaknya yang masih remaja, dan menasihatinya …

Anakku yang aku cintai, Di hutan ini, tak masalah apakah engkau harimau, rusa, atau kelinci – engkau harus berlari. Kehidupan di hutan ini tegas dan kejam, dan menghukum keras siapa pun yang malas.

JackRabbit

Continue reading

Penjaga Harta, Penghalang Malapetaka


Kereta yang saya naiki hampir sampai stasiun Cikini. Saya melihat, melalui jendela commuter line, langit di atas Cikini Gold Center kuning terang. Cuaca hari ini cerah secerah matahari pagi di pukul setengah delapan.

Begitu sampai di depan pintu tap out tap in, saya masih sibuk mencari cari cari KMT (kartu multi trip) milik saya. 5 menit berlalu. Hasilnya nihil. Kartu saya sepertinya jatuh di kereta. Oh No.

“Pak, bisa kemari sebentar?”
Lalu petugas berseragam hitam hitam mendekati saya, “kartu KMT saya nampaknya jatuh di kereta yang tadi, gimana ini Pak?” saya menjelaskan kepada petugas. Kemudian dia pun memanggil seseorang dari dalam ruangan yang tak jauh dari mesin tap in tap out. Lalu keluarlah seorang petugas perempuan berseragam putih hitam. Setelah berdialog kurang lebih 10menitan, akhirnya saya dikenai suplisi sebesar 50ribu IDR. Reaksi saya waktu itu, “What a price!”. Saya juga sempat protes kepada petugas, bahwa sesungguhnya saya memiliki kartu dan melakukan tap in kemudian kartu itu terjatuh, ditambah saldo pada KMT saya masih 63ribu IDR (yang intinya saya ingin membuktikan bahwa saya bukan penumpang ilegal). Kartu yang hilang itu adalah kartu edisi spesial pendidikan bergambar Ki Hajar Dewantara berwarna kuning. And It was my 4th lost card… T_T. What a sad.

Setibanya di kantor saya curhat dengan teman yang bekerja di KRL Comline. Continue reading

Tamu Istimewa


Siang ini seperti biasa saya berada di kantor.
Sedikit bercerita, saya adalah staff magang di pusat informasi dan humas Universitas Airlangga. Masih sama dengan hari lain, tugas kami disini salah satunya adalah menerima tamu. Tepat pukul 11 siang, pintu kantor diketuk. Saya dan staff lain mempersilakan tamu ini untuk masuk dan duduk. sebelum sempat kami selesai mempersilakan duduk, si Tamu bertanya, “Pak, Bu, ini bener kampus C Unair Mulyorejo?”. Dengan ramah kami meng-iyakan. Namun sekali lagi beliau bertanya pertanyaan serupa. Dengan heran kami kembali meng-iyakan. Namun kami terkejut ketika si Tamu berteriak girang, “horeee!! saya lulus!”.

Lalu si Tamu bercerita bahwa dia adalah siswa SLB, usianya 34 tahun namun kemampuan otaknya setara dengan anak usia 13 tahun. Namanya Aput, dia dari Wonosari, Yogyakarta. Tujuannya ke sini adalah untuk ujian. Ujian?.
Awalnya kami heran. Namun ternyata Aput sedang menjalankan ujian pencarian alamat. Bayangkan dengan kapasitas otaknya yang setara 13 tahun, ia menuju Surabaya, kota sebesar ini sendirian (ingat, dia dari Yogyakarta, 10 jam dari Surabaya).

Ia hafal benar ia harus naik bus Eka sampai Bungurasih dan 2 kali naik angkutan umum untuk sampai ke Kampus kami. Belum selesai disana, ketika kami menawarkan minum, ia menolak dengan alasan ia dilarang untuk meminta minta. Keukeuhnya prinsip tidak meminta minta ini sampai memaksa kami mencari alasan lain agar ia menerima air minum itu (ia tampak sangat lelah dan kehausan). Kami berdalih bahwa air minum itu adalah hadiah karena dia sudah lulus ujian (bisa menemukan alamat adalah ukuran kelulusannya).

Di sela perbincangan kami ia bercerita bahwa di sekolahnya ia belajar baca tulis, ketrampilan, dan agama. Ia menyebutkan ada dua agama di sana. Yang pertama adalah agama Allahu akbar (red. Islam) dan pak Yesus (red. Kristen/Katolik). kebetulan ia beragama Allahu akbar tuturnya.

Lama berbincang, ia teringat bahwa hari ini adalah hari Jumat. Ia membacakan (dia hafal, tanpa teks) surat Al-Jumu’ah bagi kami. Suaranya merdu dan bacaaannya benar, dia juga hafal dengan baik. Saya dan rekan kerja saya sampai luluh dan menangis.

Dia juga memberi tahu kami bahwa ada aturan yang harus ditaati selama ujian ini.
1. Pertama adalah boleh bertanya, namun tidak boleh diantar.
2. Kedua adalah tidak boleh naik kendaraan yang bersifat mengantar seperti taxi dan becak.
3. Ketiga, tidak boleh meminta – minta, dan masih banyak aturan lain yang mengoyak nurani saya.

Saya jadi berfikir, sudahkah kita memiliki moral sebaik tamu Tuna Grahita ini? Bahkan dia mencari tempat sampah untuk membuang sampahnya. Sedangkan kita?

Ada satu celetukan polos yang ia tanyakan pada kami.
Ia bertanya, berapa banyak ayam yang harus dijual untuk pergi ke Mekah? Untuk ke Surabaya saja ia harus menjual ayam 3 ekor.
Ia ingin ke Mekah karena sudah bisa mengaji.

Dari tamu ini saya belajar banyak tentang makna hidup, kejujuran, bagaimana berjuang dan terus memotivasi diri sendiri.
Dia berkata bahwa dia dilarang bersedih. “Kata pak Guru aku ngga boleh sedih, kalo sedih nanti bodo lagi”, ucapnya polos.

Dari sini, masih bisa sombongkah kita bahwa mahasiswa adalah makhluk paling pintar dan paling baik moralnya?

Mari belajar dari sekitar kita .

*message yang mampir ke what’s app saya*

Dialog Laki-laki dan Perempuan


Penasaran aja bang. Klo cowok berduit dideketin krn duitnya mau apa nggak.

*such rethoric question

(jawab) 👉 untuk menyiasati ini makanya dulu saya nikah muda, waktu pendapatan belom jelas, waktu hutang masih ratusan juta..

Ditanya keluarga: knapa mo nikah buru2? Knapa ga nunggu mapan, punya prnghasilan dulu, ada mobil dll.

Jawaban gw singkat: saya nikah bukan sekedar nyari pasangan, tapi sy nyari pendamping hidup.. Yg berjuang sm sy bareng, jatuh bangun bareng, nerima sy waktu ga ada apa2nya.. Siap miskin dan siang sangat kaya.. Nyari isteri yg begini yg susah..
Klo udah punya penghasilan, punya rumah, mobil dll. Nyari isteri mah gampaang, yg mau banyaak.. #ups

Akhirnya disetujui deh buat nikah muda, wkwk

Dialog di atas adalah percakapan dua orang teman saya. Laki-laki dan perempuan. Yang bertanya adalah perempuan dan yang menjawab adalah laki-laki.
Ah… Saya suka membacanya, sehingga saya post di sini. Semoga kamu dapat mengambil insight – nya yaaa…

Dreams of a Muslimah


….

She reads the Quran daily.
Reciting it as best as she could.
Deen comes first.
Being Good to her Parents second.
Following the Sunnah of all the great Muslims and Muslimahs.
She dreams of love.
Wishes someday if she dies married
Her and her Husband’s last destination is Jannah.

This is part 2, a poem by Najma Dahir

The Cockroach – A Good Reading


Bismillah…
Hi there. I find this article suits me for now. Hopefully you are also will treasure the message after reading it all. My friend sent it through my what’s app. Okay, happy reading 🙂

:::::::

A beautiful speech by Sundar Pichai – an IIT-MIT Alumnus and Global Head Google Chrome:

The cockroach theory for self development👍
    
At a restaurant, a cockroach suddenly flew from somewhere and  sat on a lady.

She started screaming out of fear.

With a panic stricken face and trembling voice,she started jumping, with both her hands desperately trying to get rid of the cockroach.

Her reaction was contagious, as everyone in her group also got panicky.

The lady finally managed to push the cockroach away but …it landed on another lady in the group.

Now, it was the turn of the other lady in the group to continue the drama.

The waiter rushed forward to their rescue.

In the relay of throwing, the cockroach next fell upon the waiter.

The waiter stood firm, composed himself and observed the behavior of the cockroach on his shirt.

When he was confident enough, he grabbed it with his fingers and threw it out of the restaurant.

Sipping my coffee and watching the amusement, the antenna of my mind picked up a few thoughts and started wondering, was the cockroach
responsible for their histrionic behavior?

If so, then why was the waiter not disturbed?

He handled it near to perfection, without any chaos.

It is not the cockroach, but the inability of the ladies to handle the disturbance caused by the cockroach that disturbed the ladies.

I realized that, it is not the shouting of my father or my boss or my wife that disturbs me, but it’s my inability to handle the disturbances caused by their shouting that disturbs me.

It’s not the traffic jams on the road that disturbs me, but my inability to handle the disturbance caused by the traffic jam that disturbs me.

More than the problem, it’s my reaction to the problem that creates chaos in my life.

Lessons learnt from the story:

I understood, I should not react in life.

I should always respond.

The women reacted, whereas the waiter responded.

Reactions are always instinctive whereas responses are always well thought of.
A beautiful way to understand…………LIFE.
Person who is HAPPY is not because Everything is RIGHT in his Life..

He is HAPPY because his Attitude towards Everything in his Life is Right….!!
I find this very true…. good that we always remind ourselves of it!

My First Post on 2015….Yeay


Bismillah..

Hi all, this is my first posting in 2015, Thankyou wordpress for nice annual report. It pushes me to write and take a look my website again :p. And in the first posting of 2015, I chose to post about Love among all themes haha… I took it from here. Please enjoy 🙂

I think a lot about love.

Many of us have this dream, unrealistic dream of how things are supposed to work, one day we will all be promised that special someone, right? One day, you will be galloping in the wind, thinking about nothing but lilies and Mr. Right will see you, fall in love and bam, happy ever after.  We have placed so much into finding THE ONE and love, or what we think love is; Love to me is acceptance, the complete acceptance of one another through thick and thin, fatness and health, poverty and wealth, donuts and kale, etc. Love is the act of accomplishing goals together, living with one cohesive goal while supporting each other’s goal.

But what do I know about love? Nothing, I have never been in love but have only imagined it. Sometimes I feel as though I have never experienced love but that would be a lie because I have experienced the most ultimate love, the greatest love. The love our creator has for his creation.

I am not trying to compare the love our creator has for us and the love we want to experience with another individual. There is no comparison.  And I am not trying to get all holy BUT we have been masked with our wants for a “Pride and Prejudice”/”Notebook”/ sickening love dream that we forget about the one who loves us most.

The one who feeds you but is not fed. The one who forgives you even in times forgiveness seems impossible. The one who made sure you woke this morning to complete another day. The one who gives you chance after chance, not ever holding that against you. The one who accepts you, no conditions necessary; the one who created you, the one who brought about your existence with only hope for you to do good. The best of listeners and the one who listens when no one listens, the one who answers when no one answers. The one who protects you even when you don’t know you need protection; the one who loves you and made you with purpose, a purpose of bringing light to those around you. The one who is there when no one is there.

There is someone for everyone, but sometimes we have to wait, we just haven’t experienced the opportunity of meeting him. Sometimes we have to experience and realize the ultimate love that God has for us in order to truly fall in love with someone. Sometimes we must experience real love to experience love at all.

Love is not the goal, we were born to be loved by the most loving, Al-Wadud.

Pohon Korma


image

Ada kata-kata bijak kuno yang mengatakan bahwa “orang benar akan bertunas seperti pohon korma”.

Pohon korma lazim dijumpai di Timur Tengah. Dengan kondisi tanah yg kering, gersang, tandus & kerap dihantam badai gurun yang dahsyat, hanya pohon korma yang bisa bertahan hidup. Tak berlebihan kalau pohon korma dianggap sebagai pohon yg tahan banting.

Kekuatan pohon korma ada di akar2nya. Petani di Timur Tengah menanam biji korma ke dalam lubang pasir lalu ditutup dengan batu. Mengapa biji itu harus ditutup batu? Ternyata, batu tersebut memaksa pohon korma berjuang untuk tumbuh ke atas. Justru karena pertumbuhan batang mengalami hambatan, hal tersebut membuat pertumbuhan akar ke dalam tanah menjadi maksimal. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah biji pohon korma itu bertumbuh ke atas, bahkan bisa menggulingkan batu yang menekan diatasnya.

“Ditekan dari atas, supaya bisa mengakar kuat ke bawah.”

Bukankah itu prinsip kehidupan yang luar biasa?

Sekarang kita tahu mengapa Allah kerapkali mengijinkan tekanan hidup datang. Bukan untuk melemahkan & menghancurkan kita, tapi sebaliknya.

Allah mengijinkan tekanan hidup itu untuk membuat kita berakar makin kuat. Tak sekedar bertahan, tapi ada waktunya benih yang sudah mengakar kuat itu akan menjebol “batu masalah” yang selama ini menekan kita. Kita keluar menjadi pemenang kehidupan.

Allah mendesain kita seperti pohon korma. Sebab itu jadilah tangguh, kuat & tegar menghadapi beratnya kehidupan.

Milikilah cara pandang positif bahwa tekanan hidup tak akan pernah bisa melemahkan, justru tekanan hidup akan memunculkan kita menjadi pemenang-pemenang kehidupan.

Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah…

*Nasehat pagi hari ini*

Hari ini, Ramadhan ini


Maka hari ini, jika puasa terasa melemahkan, jika tarawih melelahkan, jika tilawah memayahkan, mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Mesir, dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah, ketika kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzhaliman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.

Hari ini kami minta izin pada Shalih(in+at) tuk memohon, bagian dari kepedulian itu

– Salim A. Fillah

image

Ibu yang memeluk anaknya setelah anaknya dipukuli oleh tentara Israel

Allahumma ij’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khaiir, waj’alil mauta rohatan lana minkulli syarr. Jadikan ya Allah, kehidupan kami sbg sarana menambah segala kebaikan. Dan jadikan kematian kami sebagai rehat dari segala keburukan.

Hambamu yang tersaruk mengejar kemuliaan Ramadhan
(quote Dea Tantyo)

-di penghujung Ramadhan *tears*
16 Juli 2014

Bukan Orang Suci


Menjelang istirahat, sejenak kita merenung ya

Bukan Orang Suci
tausiyah dar ust. Aidil Heryana

= Tawakkal Semut =
Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman
alaihissalaam bertanya kepada seekor semut, “Wahai semut!
Berapa banyak engkau memperoleh rezeki dari Allah dalam
waktu satu tahun?”
“Sebesar biji gandum,” jawab semut.
Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut tersebut sebiji gandum
lalu memeliharanya dalam sebuah botol.
Setelah genap satu tahun, Nabi Sulaiman alaihissalam membuka
botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si
semut hanya memakan setengah bagian dari biji gandum yang
disediakan itu.
“Mengapa engkau hanya memakan sebagian dan tidak
menghabiskannya ?” tanya Nabi Sulaiman.
“Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah,” jawab
si semut. “Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa DIA
tidak akan melupakanku.
Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau
akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga aku bisa
memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku.
Karena itu, aku harus tinggalkan setengah bagiannya sebagai
bekal tahun berikutnya.”

***

Belajar tawakkal dari seekor semut, betapa menyandarkan
nasib kepada selain Allah swt sama sekali TIDAK ADA
JAMINAN sebab kelemahan makhluk yg lekat dengan kesalahan
dan lupa ..
Tidak pada partner kerja, pimpinan, perusahaan, hingga pada
pasangan…
Jangan sekali-kali menggantungkan HARAPANMU kepada
makhluk, tapi sandarkanlah kepada yg menciptakan semua
makhluk…
Wallaahu khayran haafizhan…han ya Allah, sebaik-baik
penjaga…

So true 🙂
Tulisan di atas saya dapatkan dari what’s app message. Hatur nuhun.

Ada di Langit


 
Aku tinggal dibumi. Tapi, carilah aku di langit. Sebab aku tertahan diantara bintang-bintang. Kau jemput aku dengan doa-doa setelah shalatmu. Kau tengadahkan tanganmu atau bersujud, berdoalah untuk memintaku. Aku tertahan dan garis batas yang membentang diantara kita selebar langit dan bumi.

Aku tinggal di bumi, tapi carilah aku dilangit. Di sepertiga malammu saat Tuhan turun ke langit bumi. Mintalah aku yang berada di genggaman tangan-Nya. Percuma mencariku di bumi, sebab kunci itu ada d langit. Kunci yang akan menghapus garis batas diantara kita. Mengubah garis yang tadinya neraka, menjadi surga.

Aku berada di tempat yang tidak bisa kau temui di bumi. Tapi kau bisa menemuiku di langit, meski bukan wujud kita yang bertemu. Melainkan doa-doa kita yang menggetarkan singgasana-Nya. Temukan aku di langit, didalam doa-doa panjangmu. Didalam harapanmu.

Meski kita tidak saling tahu nama, tidak saling tahu rupa. Jemputlah aku dilangit. Sebab aku tahu, kau mengenalku bukan karena nama dan rupa. Doa kita telah bertemu sebelum fisik kita.

Mudah bagi-Nya membuat kita kemudian bertemu. Tidak hanya bertemu namun juga disatukan. Sebagaimana doa-doa yang sebelumnya telah kita panjatkan.

Pertemuan kita yang pertama berada di langit, kan? Sekarang kau tahu, mengapa aku memintamu mencariku di langit?
 
Dikutip dari Kurniawan Gunadi

RB, Mumpung Masih Muda


Baru saja saya membaca tulisan di grup whats app. Tulisan ini bermakna sekali untuk diri saya, maka saya mau share kembali tulisan itu di sini. Tulisan ini diambil dari http://jamilazzaini.com. oiya, judul RB diatas adalah kepanjangan dari Reblog. Please enjoy 🙂

Mumpung Masih Muda

Saya teringat beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, dengan sebuah pesan yang menurut saya sangat dalam maksudnya. Pesan itu mengatakan, “mumpung kalian masih diberi usia muda oleh Tuhan, gunakanlah kemudaanmu itu untuk membiasakan diri dengan ibadah-ibadah yang berat”.

Kenapa malah yang berat? Bukankah masa muda itu masa yang seharusnya enjoy, seneng-seneng, kok malah yang berat-berat? Jawaban pesan tadi, “karena suatu saat kamu menua dan jadi lansia, maka ibadah yang tadinya terlihat berat akan jadi terasa enteng kamu jalankan”.

Rasanya benar juga. Nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada kita ini mustahil terhitung oleh kemampuan memori dan akal kita. Di saat kita sehat, ada yang sedang sakit. Di saat kita gampang menghirup udara bebas dengan gratis, ada yang harus membayar oksigen untuk bernapas karena sakitnya. Di saat kita diberi kenyang, ada yang sedang kelaparan. Di saat kita berkecukupan, ada yang kekurangan. Dan seterusnya.

Cara kita mensyukuri rezeki dan nikmat yang unlimited dari Tuhan itu ya hanya dengan beribadah yang serius. Kita bahagia karena bersyukur dan bersyukur kita itu caranya dengan beribadah yang sungguh-sungguh. Perlu kita ingat juga, ibadah itu bukan ‘alat tukar’. Kita ingin harta, kita ingin jodoh, kita ingin karir, kita ingin mobil, kita ingin pekerjaan, kita ingin profit bisnis, lantas kita ibadah mempeng via shalat, sedekah, ngaji. Itulah ibadah sebagai ‘alat tukar’.

Apa ya salah yang seperti itu? Ya jelas tidak salah. Kalau memang kita baru sampai pada tahap beribadah sebagai ‘alat tukar’ ya harus kita syukuri daripada kita tidak tergerak sama sekali untuk beribadah padahal sudah banyak sekali nikmat Tuhan yang kita cecap. Continue reading

Tentang malam ini


Saya masih terjaga. Hujan perlahan jatuh rintik-rintik. Entah mengapa, ada kerinduan yang menyergap rasa kantuk. Maka saya ingin menuliskan kembali puisi seorang adik yang pandai. Saya tengah merindukan dua orang, yang malam ini punya tempat istimewa di benak saya. Apakah kalian mendengar sapaan kerinduan ini?

“Bromo malam ini sepi, menikmati kesunyian. Tak ada yang lebih gelap dari kerinduan. Menanti hari kelak saling meniti sungai kehidupan. ” (Ijonkmuhammad)

Kalian tahu pahitnya menahan gelap dalam dingin?

” Mungkin ada kalut dari esok yang lahirkan takut. Tapi kita berserah dalam doa, rebah pada keinginan yang sama. Selamanya, adalah kita.” (Ijonkmuhammad)

Maka biarkan kata kata menjelma doa, lalu ia berjalan ke atas langit. Kalian juga kan?